Cari Blog Ini

Memuat...

Sunan Kalijogo

Posted by R Nurhadi On 0 komentar
Menurut riwayat, Sunan Kalijaga mula-mula berguru kepada Sunan Bonang. Setelah itu, beliau berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon, dan memohon agar seluruh ilmu Sunan GUnung Jati diwwejangkan kepadanya. Disebutkan dalam literatur Jawa, beliau berguru pula kepada para Wali yang lain sehingga meskipun beliau dikenal sebagai wali termuda tetapi merupakan murid yang paling pandai. Menurut pendapat ini, guru memiliki hanya sebatas kemampuan ilmu yang mereka miliki masing-masing, sedangkan ilmu yang dimiliki sunan Kalijaga mencakup semua ilmu wali-wali itu. Lebih dari itu sunan Kalijaga tidak cukup berguru kepada sesame Walisongo di tanah jawa saja, bahkan dikabarkan beliau berguru pula kepada Nabi Khidir a.s., sebagaimana dahulu Nabi Musa a.s. pernah berguru kepada Nabi penjaga laut itu. Apakah beliau berguru kepada Nabi Khidir melalui alam ghaib ataukah dalam kenyataan seperti yang disebut-sebut dalam babad-babad Jawa, masih merupakan suatu teka-teki yang besar.

Diberitakan, Sunan Kalijaga berguru pula kepada Dara Petak di Palembang. Lalu dilanjutkan dengan berguru kepada Syaikh Sutabris di Pulau Upih (Malaka). Menurut Dr.Hoesein Djajadiningrat, Syaikh Sutabris adalah sebutan ringkas dari Syamsudin Tabris atau Syamsudin Ath-Thabrizi yaitu Syamsudin Thabriztan penulis Diwan-i Syams i Tabriz. Dalam sejarah kebudayaan Persia, nama tokoh ini amat terkenal dan bertalian sangat erat dengan riwayat hidup Jalaludin Rumi (wafat tahun 1273 M) penyair sufi terkenal dari Persia. Syamsyudin Ath Tabrizi telah meninggal akibat pembunuhan yang kejam oleh lawan mazhabnya pada tahun 645 H/ 1274 M, sedangkan masa hidup Sunan Kalijaga adalah beberapa abad sesudahnya. Dari sini dapat dinyatakan bahwa tidak mungkin Sunan kalijaga berguru langsung kepada Syaikh in sebagaimana tak mungkin sebebnarnya berita-berita di Jawa yang menyatakan bahwa Syaikh Sutabris dapat berpindah kediaman ke Demak setelah berdirinya Kerajaan Islam Demak dan kemudian wafat dan dikuburkan ke Demak. Adapun yang lebih mendekati kemungkinan ialah bahwa Sunan Kalijaga berguru kepada seorang mu’alim di Malaka yang menguliahkan pikiran-pikiran Syaikh Sutabris berdasar atas kitab peninggalannya itu.

Melalui pertautan mata rantai Sunan Kalijaga dengan Syaikh Sutabris di atas, maka dapatlah kita mereka-reka jalan pikiran, per sikap, dan peri hidup sunan Kalijaga yang kiranya tentu banyak dipengaruhi oleh jalan pikirandan sikap hidup gurunya. Sebagaimana diketahui, Syaikh Sutabris dikenal sebagai darwis pengembara, sufi yang telah sampai kepada derajat fakir, tiada membutuhkan tempat kediaman tertentu, berpindah-pindah dan berkeliling dari suatu tempat ke tampat yang lain. Sedangkan kehidupan Sunan Kaljaga memang sesuai dengan kehidupan seorang darwis. Beliau selalu mengembara ke berbagai tempat. Sekali waktu Sunan Kalijaga diberitakan berada di Tegal menggerang barongan dan dijuluki Ki benguk yang mendalang dengan upahan kalimat Syahadat. Pada saat lain lagi diberitakan bahwa Sunan Kalijaga sudah berada di Pajajaran, mendalang Pantun dengan berjuluk Ki Seda Brangti, dan pada kesempatan yang lain sudah berada di kawasan Majapahit terus ke Blambangan. Di wilayah bagian Jawa timur itu Sunan Kalijaga mendalang wayang kulit danmenyamarkan dirinya dengan nama Kuncara purba. Sebentar kemudian lagi terdengar pula bahwa beliau sudah di bagian Jawa Tengah selatan yaitu di daerah Bagelen, Mataram, Bukit Jabalkat di tembayat untuk mendekati tokoh-tokoh tua di daerah itu agar masuk ke dalam islam. Mereka itu adalah antara lain Ki Cakrajaya.

Dalam Diwan-i Syams-i Tabriz, menurut penyelidikan Nicholson, terdapat bukti-bukti adanya jalan pikiran “ideal artistik” gaya Socrates. Jalan pikiran ini cenderung meremehkan pengetahuan dan aspek lahiriyah dan sangat mementingkan kebatinan sepertin nilai-nilai cinta. Hanya saja tentang ini Nichholson menambahi dengan komentar:

“ but wild captures and arrogant defiance of every human law can ill atone for the lack of that sweet-reasonableness and moral grandeur which distinguish the sage from devotee.”

Orientalis itu menyayangkan bahwa gairah yang berkobar dan sikap acuh tak acuh bertentagn dengan hukum alami tabiat manusia dipandang dapt meringankan penderitaan seseorang akibat diri kekurangan ma’quli (penalaran) yang manis dan keangungan budi yang bisa membedakan antara yang ‘arif (pengetahuan yang bijaksana) dan muthi (patuh). Dalam kaitan inikalau kita perhatikan, pengaruh Sunan Kalijaga sangat besar terhadap masyarakat Jawa Tengah, sedang jalan pikiran masyarakat Jawa Tengah yang kita saksikan sekarang dikuasai oleh ukuran-ukuran rasa (Jawa : rasa, raos, rumangsa) yang emosional-artistik. Hal ini lebih diperkuat dengan dengan adanya kemungkinan pengaruh cara berpikir Sunan Kalijaga dengan Socrateisme yang ideal-artstik dari diwan-i Syams-i Thabriz. Gaya ini kemudian diwariskan pada masyarakat Jawa Tengah yang memang sangat mencintai beliau. Dalam menyampaikan gagasannya Syaikh Tabriz banyak memakai cara pengajaran dan penyajian buah pikiran melalui syair denga lagu gazal. Mungkinkah Sunan Kalijaga yang banyak menciptakan kidung, suluk atau nyanyian keramat dan liturgis yang banyak tersebar di kalangan rakyat seperti Kidung Rumeksa ing Wengi juga menjadi bukti akan besarnya pengaruh cara-cara sang guru Syaikh Sutabris terhadap beliau?

Syaikh Tabriz banyak mempengaruhi dan membentuk cara berpikir Jalaludin Rumi, karena Syaikh Tabriz memang guru teologi dan mistik sekaligus kawan sang penyair. Selain oleh Tabriz, ternyata jiwa dan kepribadian Jalaludin Rumi terbentuk dan terpengaruh oleh Fariduddin Attar yang telah menghadiahkan kitab karangan Asrar Nama (Kitab Rahasia) kepada Rumi pada waktu beliau masih berusia 3 tahun. Kalau kita bandingkan dua orang sufi penyair, Attar dengan rumi, ternyata keduanya sama-sama memiliki kekayaan imajinasi dan lancar berkomunikasi. Dengan karunia itu mereka mengutarakan buah pikiran melalui syair-syair berbentuk gazal, masnawi, baharramal samapi tercipta cerita penuh ibarat. Semuanya bersumber dari lubuk hati, yang dipenuhi rasa cinta, rindu dendam, dan asyik akan Tuhan. Misalnya saja syair-syair hikayat Manthiq Al-Thayr (Percakapan Burung-burung) dari Atthar atau syair usaha makhluk untuk bersatu dengan Tuhan yang berakhir dan mencapai klimaksnya pada wihdatul wujud. Di pihak lain, hasil karya Sunan Kalijaga yang berbentuk kidung dan suluk juga berisi kisah, cerita, tamsil serta ibarat. Diantaranya yang masyahur adalah cerita wayang Dewa Ruci yang di dalamnya berkisah tentang Aria Sena atau Bima mencari Jejering Pangeran (Hadhirat, atau letak kedudukan Tuhan) yang berakhir dan mencapai klimaks usahanya lebur merasuk ke dalam telinga Dewa Ruci.

Untuk melihat kedudukan Sunan Kaijaga ini kita lengkapi dengan mempertalikan sederetan syair-syair Melayu Lama yang banyak dipengaruhi oleh suasana keislaman semisal syair-syair Hamzah Fansuri. Dalam pertalian riwayat-riwayat dan perkisahan dalam babad-babad Jawa dengan hasil karya Rumi dan At thar akan membuktikan bahwa Sunan Kalijaga alias Syaikh Malaya itu merupapak “saudara” seperguruan dengan Jalaludin Rumi. Perbedaannya, kalau Rumi berguru langsung dan konkret kepada pribadi Syamsudin At Tabriz, sedangkan Sunan Kalijaga hanya berguru pada buah pikiran beliau yang telah terhimpun dalam Kitab peninggalan Syiakh Sutabris (sebutan lain Syamsu Tabriz), yaitu melalui seorang mu’alim yang mengajar di Pulau Upih, Malaka.

Dalam Manthiq Al-Thayr antara lain disebutkan bahwa tingkat fana’ yang dicapai oleh Simurak (Salik atau Pelintas Jalan) yang dilukiskan oleh AtThar sebagai berikut:

“Hadrat ini adalah kaca, siapa yang datang kemari, tidaklah akanmelihat selain dirinya sendiri. Tuan datang Simurak (tiga puluh), tentu yang akan Tuan lihat ialah Simurak. Yah, betapa penglihatan bisa melihat kami? Bagaimana mata langit dapat mengukur bintang Suraya?”

Dalam syair-syair wejangan Sunan Tembayat kepada Syaikh Domba yang selalu mengirinya ketika mencari Sunan Kalijaga, kita bisa mengetahui ajaran-ajaran Sunan Kalijaga yang diwejangkan kepada Sunan Tembayat, melalui langgam Dandanggula berikut ini:

“utamanae manungsa linuwih I jroning urip anglakoni pejah I den panggih rupa rasane I upama ngilo iku I wewayangan sejroning cermin I kembar rupa lan rasane I lan ngilo iku I kang aneng sajroning kaca I ia sira jenenge kawula jati I kang ngilo Sukma purba”II

Syair-syair Matsnawi Rumi, dengan ‘Asyiq-nya.

“Karamkanlah aku di dalam rindu/mencari Dia, mendekati Dia/Dan telah tenggelam pula/nenekku dulu;Dan yang kemudian/mengikut pula/kalau kukatakan bibirnya/Itulah ibarat dari bibir pantai lautan/yang luas tak tentu tepinya/Dan jika kukatakan la/ tujuku ialah illa.”//

Kidung Hamzah Fansuri:

“wujud Alloh nama perahunya/iman Alloh nama kemudinya/yakin akan Alloh adalah nama pawangnya/taharat dan istinja’ nama lantainya/kufur dan ma’siyat air ruangnya/tawakkal akan Alloh juru batunya/tauhid itu akan sauhnya/illa akan talinya/Kamal Alloh adalah tiangnya.”//

Selain itu, sesuatu yang mungkin berasal dari pancaran pribadi dan pengaruh Syamsudin ath-Thabrizi pada diri Sunan Kalijaga ialah keuletan wali ini, kegigihan dan keikhlasannya dalam hidup dan perjuangan untuk mengembangkan agama dan paham beliau. Semua sifat ini memang terdapat dalam diri Syamsu Tabriz, dan pantulannya memancar dari pribadi Jalaludin Rumi dengan pendirian bahwa hidup tidak boleh menyerah kalah begitu saja. Seruak segala gatal, rambah segala onak dan duri, hadapi perjuangan hidup dan bekerja terus, berjuang terus. Manusia diberi kebebasan di bumi, dikirim kemari buat berjuang, buat bertumpah keringat, mencari jalan pulang!

Sunan kalijaga (1) selesai.

Tulisan ini diambil langsung dari buku berjudul “Mengislamkan Tanah Jawa:Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo” karya Widji Saksono, yang diterbitkan oleh Penerbit mizan Januari 1995 dan Juli 1995.
Comments
0 Comments

0 komentar: